• Home
  • /
  • Untuk atasi kekurangan pakan ternak di Gunung kidul prodi Peternakan UMBY berikan pelatihan technofeeding bagi peternak

Untuk atasi kekurangan pakan ternak di Gunung kidul prodi Peternakan UMBY berikan pelatihan technofeeding bagi peternak

Foto Pelatihan tekhnofeeding di Gunungkidul Daerah Istimewa Yogyakarta.


Gunung Kidul merupakan salah satu daerah penghasil ternak sapi potong di Daerah Istimewa Yogyakarta, akan tetapi peternakan rakyat tersebut tidak diimbangi dengan ketersediaan pakan yang cukup, akibatnya pakan hijauan yang tersedia di daerah tersebut tidak bisa mencukupi kebutuhan dan harus mendatangkan pakan hijauan dari luar daerah seperti Bantul bahkan Klaten. Melihat permasalahan tersebut Prodi Peternakan Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) bekerjasama dengan mahasiswa KKN Universitas Muhammadiyah Yogyakarta kelompok 054 yang berada di Desa Pilangrejo, Kec. Nglipar  Kab. Gunung Kidul untuk mengadakan pelatihan technofeeding (pembuatan silase dan hay berbahan rumput, jerami padi dan bahan lokal lainnya) dengan menghadirkan narasumber Ajat Sudrajat, S.Pt., M.Pt. dari Prodi Peternakan Fakultas Agroindustri Universitas Mercu Buana Yogyakarta.

Menurut Ajat Sudrajat, S.Pt., M.Pt. pakan merupakan hal yang paling penting dalam sebuah usaha peternakan. Salah satu faktor yang harus diperhatikan untuk meningkatkan produktifitas ternak adalah penyediaan pakan yang cukup sepanjang tahun baik cukup secara kuantitas (jumlah) maupun kualitasnya. Permasalahan umum yang sering terjadi di peternakan rakyat adalah surplus pakan hijauan ketika musim penghujan dan kekurangan pakan ketika musim kemarau, maka dari itu perlu adanya penggunaan teknologi pakan yang tepat supaya pakan bisa tersedia sepanjang tahun dan mempunyai kualitas nutrisi yang baik. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi kekukrangan pakan di musim kemarau adalah dengan cara pengawetan pakan. Pengawetan tersebut dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu pembuatan silase, amoniasi jerami dan hay (pengeringan). Teknologi pakan tersebut selain bisa mengawetkan dalam penyimpanan pakan, bisa juga meningkatkan kualitas nutrisi pakan.

  Silase dan amoniasi adalah pengawetan pakan dengan cara fermentasi yang dilakukan secara an aerob (tanpa udara) dengan ditambahkan bahan-bahan tambahan seperti bekatul atau dedak, EM4 (starter), molases (tetes tebu), urea (untuk amoniasi jerami) dan lain-lain. Prinsip dasar pembuatan silase adalah untuk mengawetkan dan mengurangi kehilangan kandungan zat nutrisi dalam pakan. Sedangkan hay merupakan hijauan pakan yang dikeringkan dan Prinsip pembuatan hayadalah menurunkan kadar air pakan menjadi 15-20% dalam waktu yang singkat, baik dengan panas cahaya matahari ataupun panas buatan.
Cara pembuatan silase cukup mudah yaitu menyiapkan alat dan bahan seperti bekatul, molasses atau tetes tebu, EM4 Peternakan, air, golok untuk mencacah rumput, ember untuk mencampur EM4, tetes tebu dan air, plastik untuk tempat penyimpanan silase, tali rafia untuk mengikat, sprayer kecil untuk menyemprotkan larutan EM4 dan tetes tebu yang dicampur dengan air serta terpal untuk tempat pencampuran bahan. Adapun perbandingan bahan-bahannya adalah untuk pembuatan silase rumput/jerami 100 kg cukup mencampurkan 5-10% bahan yang disebutkan tadi (bekaltul 5 kg, tetes tebu 500 ml, EM4 Peternakan 2 tutup botol dan air kurang lebih 5 liter).
Proses pembuatannya yaitu pertama rumput atau jerami di cacah sampai dengan ukuran 3-5 cm, kemudian dicampur dengan bekatul sampai merata, selanjutnya larutkan tetes tebu dan juga EM4 kedalam air kemudian semprotkan secara merata sambil di balik, namun perlu diperhatikan hasil pencampuran tidak boleh terlalu basah karena apabila terlalu basah akan menyebabkan pembusukan, jadi idealnya tidak terlalu basah dan tidak terlalu kering. Jika semua bahan sudah tercampur dengan baik selanjutnya dimasukan ke dalam kantong plastic atau tong sampai penuh sambil dipadatkan, setelah itu pastikan plastik atau tong tersebut sudah  padat dan tidak ada udara (an aerob) ditutup rapat atau di ikat menggunakan tali raffia dengan kuat supaya udara dari luar tidak masuk kedalam plastik, kemudian disimpan selama 10-14 hari, setelah itu pakan siap diberikan, akan tetapi sebelum diberikan kepada ternak pakan diangin-anginkan dulu untuk mengurangi bau amoniaknya minimal 30 menit, jika bau amoniak sudah hilang maka sudah bisa diberikan kepada ternak. Ciri-ciri pakan silase yang baik adalah berwarna kehijau-hijauan seperti warna rumput asalnya pada saat pembuatan silase, berbau harum seperti bau tape, pH berkisar 4-4,5 serta tidak berjamur dan tidak menggumpal.

Leave Your Comment Here