Prodi Peternakan UMBY Terima Sosialisasi Kerjasama Dengan PT. JIPA (Japan-Indonesia) Untuk Program Internship (Magang di Jepang) Bagi Mahasiswa

Acara sosialisasi kerjasama dengan PT. JIPA

Pada hari Jumat 21 Februari 2020 telah dilaksanakan acara sosialisasi kerjasama anatara PT. JIPA (Japan-Indonesia) di ruang seminar lantai 1 rektorat UMBY Kampus 1. Pada acara sosialisasi tersebut PT. JIPA menawarkan program Internship bagi mahasiswa prodi Peternakan UMBY untuk magang di salah satu perusahaan peternakan besar yang ada di Jepang. Program yang ditawarkan untuk magang di Jepang yaitu di perusahaan poultry dan peternakan babi akan tetapi kedepannya tidak menutup kemungkinan bisa juga magang di peternakan sapi ataupun di perusahaan olahan hasil ternak.

Mahasiswa yang dapat mengikuti program ini diutamakan semester 3 sampai dengan semester 5. Program internship yang ditawarkan minimal 6-12 bulan, adapun fasilitas mahasiswa yang didapatkan selama magang di Jepang adalah mendapatkan tempat tinggal dan juga uang saku. Setelah program magang tersebut selesai mahasiswa akan mendapatkan sertifikat.

Menurut Ajat Sudrajat, S.Pt., M.Pt., program internship ini bisa memberikan pengalaman dan ilmu praktis kepada mahasiswa serta mendapat keterampilan tambahan bahasa Jepang. Selain itu mahasiswa bisa menerapkan dan membandingkan ilmu yang sudah didapatkan diperkuliahan dengan ilmu yang ada di perusahaan poultry, karena perusahaan yang ada di jepang rata-rata sudah menggunakan teknologi yang sangat modern dan terkomputerisasi.

Prodi Peternakan UMBY Kenalkan Sumber Daya Genetik Ternak Lokal Indonesia

( Picture From https://www.youtube.com/watch?v=hhOZhpZSrf8 )

Sumber Daya Genetik Ternak Lokal (SDGT) merupakan kekayaan suatu bangsa atau Negara yang dapat dijadikan ciri khas sekaligus keunggulan yang punya nilai tinggi dalam ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat. Salah satu SDGT yang ada di Indonesia adalah Sapi Pasundan yang merupakan SDGT asli Indonesia yang berasal dari Jawa Barat.

Sapi pasundan merupakan ternak lokal Indonesia khususnya diwilayah Provinsi Jawa Barat yang sudah dipelihara secara turun temurun dan telah menyatu dengan kehidupan masyarakat peternak selama ratusan tahun serta dijadikan sumber modal atau sebagai tabungan. Berdasarkan SK. Mentri Pertanian RI. No. 1051/ kpts/ SR.120/ 10/ 2014, Sebaran asli geografis Sapi Pasundan di Provinsi Jawa Barat meliputi kabupaten Ciamis, Pangandaran, Tasikmalaya, Garut, Cianjur, Sukabumi, Kuningan, Majalengka, Sumedang, Indramayu dan Purwakarta.

Asal usul sapi pasundan yaitu hasil dari adaptasi lebih dari sepuluh generasi antara bos sandaicus/ banteng/ sapi bali, dengan sapi jawa, sapi Madura dan sapi sumba ongole membentuk sapi pasundan.  Karakteristik sapi pasundan berdasarkan SK. Mentri Pertanian RI. No. 1051/ kpts/ SR.120/ 10/ 2014 yaitu :

Sifat kualitatif : warna tubuh Dominan merah bata, terdapat warna putih pada bagian pelvis dan keempat kaki bagian bawah (tarsus dan carpus) dengan batasan yang tidak kontras. Terdapat garis belut atau garis punggung dengan warna lebih tua, dari warna dominan. Beberapa sapi pasundan jantan dapat mengalami perubahan warna dari merah bata menjadi hitam sesuai dengan dewasa kelamin (perubahan hormone androgen). Hidung hitam, ujung ekor hitam, bentuk tubuh segi empat, bentuk kaki panjang dan kecil, tanduk pendek tidak seragam dan bervariasi dari kecil sampai besar, gumba atau punuk ada yang bergumba atau berpunuk.

Sifat Kuantitatif : bobot badan sapi pasundan jantan 240 kg dan betina 220,30 kg, umur dewasa kelamin 25-30 bulan, umur pertama beranak 30-40 bulan, jarak beranak 1,1-1,3 tahun, lama estrus (birahi) 12-17 jam dan siklus birahi 18-24 hari.

Ajat Sudrajat, S.Pt., M.Pt., menyatakan bahwa SDGT adalah suatu anugrah yang sangat luar biasa yang dimiliki oleh Bangsa Indonesia yang harus dijaga dan dilestarikan sehingga dapat memberikan manfaat bagi para peneliti, akademisi, pemuliabiakan ternak, peternak, dan masyarakat baik untuk pembelajaran, peneletian, produksi pangan, agrowisata dan optimalisasi produksi peternakan. Oleh karena itu pengenalan dan pelestarian SDGT menjadi sangat penting dan menjadi tanggung jawab kita bersama supaya tidak mengalami kepunahan.

(hendrikaprawi.blogspot.co.id)

Sutarno dan Setiawan (2015) melaporkan bahwa pada tahun 1990 satu ekor sapi pasundan memproduksi karkas antara 500-700 kg, namun saat ini sapi rancah (pasundan) hanya dapat menghasilkan karkas rata-rata 300-350 kg/ekor. Hal ini merupakan dampak dari perkawinan inbreeding yang telah terjadi selama beberapa tahun terakhir.

Prodi Peternakan UMBY Terapkan Bioteknologi Reproduksi Pada Ternak Unggas

Gambar proses pemeliharaan ayam petelur di UPT Teaching Farm UMBY

Industri peternakan unggas merupakan salah satu penyumbang protein hewani asal ternak terbesar di Indonesia dan produk olahan serta produk turunannyapun sangat di gemari oleh masyarakat mulai dari anak-anak sampai dengan orang dewasa. Produk peternakan unggas meliputi daging, telur dan produk olahan serta produk hasil sampingannya adalah pupuk kandang, tepung bulu ayam dan tepung tulang. Untuk mendapatkan hasil yang optimal pada peternakan unggas tentu harus ada bibit unggul yang mempunyai kualitas serta bisa tahan terhadap penyakit dan mampu beradaptasi dengan baik pada lingkungan sekitarnya dan didukung dengan ketersediaan pakan yang cukup baik dari segi kualitas (nutrisi yang baik) dan kuantitas (jumlah pakan yang cukup). Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mendapatkan bibit yang baik yaitu dengan cara penggunaan bioteknologi reproduksi.

Reproduksi mempunyai peranan penting bagi usaha peternakan, jika reproduksinya tidak optimal maka peternakan itu tidak akan berkembang dan usaha ataupun bisnis yang dijalankanpun akan mengalami kerugian. Bioteknologi reproduksi ternak merupakan suatu penerapan teknologi dibidang reproduksi ternak yang bertujuan untuk meningkatkan mutu genetik ternak. Bioteknologi reproduksi yang sering diterapkan di Indonesia adalah inseminasi buatan dan transfer embrio, adapun fertilisasi invitro dan kriopreservasi masih jarang diaplikasikan di peternakan rakyat.

Mengingat pentingnya pengenalan dan penerapan bioteknologi reproduksi tersebut prodi Peternakan UMBY mengembangkan teknologi inseminasi buatan pada unggas khususnya ayam petelur dan ayam KUB (Kampung Unggul Balitnak) yang tujuan utamanya memproduksi telur konsumsi dan DOC ayam kampung super hasil silangan ayam petelur dengan ayam KUB. Menurut Ajat Sudrajat, S.Pt., M.Pt. tujuan pengembangan dan penerapan teknologi ini adalah melatih mahasiswa sekaligus memperkenalkan pada masyarakat tentang pentingnya teknologi reproduksi pada ternak supaya peternak ataupun pelaku bisnis dibidang peternakan bisa mendapatkan keuntungan yang lebih banyak serta bisa menciptakan produk baru yang memiliki kualitas genetik yang baik. Selain produk baru yang dihasilkan, dengan penerapan teknologi ini bisa membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat yang tertarik untuk bekerja di peternakan unggas karena SDM yang mempunyai keahlian dibidang inseminasi buatan pada ternak unggas masih belum banyak, sehingga mahasiswa ataupun masyarakat umum bisa menjadi tenaga profesional dibidang ini.

Prodi Peternakan UMBY kembangkan pemanfaatan limbah peternakan menjadi bioenergi

Industri Peternakan merupakan salah satu bidang yang mempunyai peranan penting bagi suatu bangsa karena bidang ini berperan pokok untuk menyediakan kebutuhan pokok manusia khususnya dalam bidang pangan dan penyediaan protein hewani (Daging, Susu dan Telur). Disamping itu industri peternakan mempunyai masalah yang cukup besar jika tidak ditangani dengan baik, salah satunya adalah limbah kotoran ternak.

Gambar proses praktikum

Limbah kotoran ternak yang ada di masyarakat biasanya hanya digunakan untuk pupuk pertanian, padahal jika diberikan sentuhan teknologi maka limbah kotoran ternak tersebut bisa menghasilkan bioenergi. Contoh bioenergi yang dapat dihasilkan adalah briket dan biogas.

Biogas merupakan gas yang dihasilkan dari proses fermentasi atau aktivitas anaerobik dari bahan-bahan organik yang bersifat biodegradabel dalam kondisi anaerobik contoh untuk bahan pembuatan biogas adalah kotoran ternak, kotoran manusia dan sampah organik , sedangkan briket adalah sebuah blok yang dapat dibakar dan dimanfaatkan untuk bahan bakar serta memiliki kemampuan untuk mempertahankan nyala api contohnya adalah briket batu bara, briket arang, briket kotoran ternak sapi dan lain-lain.

Prodi peternakan UMBY mengembangkan pemanfaatan limbah kotoran ternak menjadi bioenergi yang di implementasikan dalam mata kuliah pilihan yakni mata kuliah Teknologi biogas dan pengolahan limbah, dimana dalam mata kuliah tersebut mahasiswa diajarkan tentang cara manajemen pengolahan limbah dengan teknologi yang tepat dan dapat memberikan manfaat yang luar biasa. Dalam praktiknya mahasiswa yang mengambil mata kuliah tersebut mendapatkan 1 sks teori dan 1 sks praktikum. Pelaksanaan praktikum dilaksanakan di UPT teaching farm UMBY. Praktikum ini meliputi pemahaman instalasi biogas, Studi kasus instalasi yang tidak berfungsi, memperbaiki saluran pipa instalasi, memodifikasi kompor gas, melihat dan menghitung tekanan gas yang dihasilkan serta uji fisik api yang dihasilkan.

Gambar hasil biogas

Menurut Ir. Setyo Utomo, MP. selaku dosen pengampu mata kuliah tersebut menyatakan bahwa pemanfaatan limbah kotoran ternak untuk menghasilkan bioenergi diharapkan dapat memberikan pengetahuan dan keterampilan bagi mahasiswa khususnya serta umumnya dapat membantu masyarakat menghemat energi dengan mengganti gas elpiji dengan biogas.

Ajat Sudrajat, S.Pt., M.Pt. menambahkan jika limbah peternakan dimanfaatkan dengan baik maka akan lahir produk-produk bioenergi yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekaligus membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat luas.

UPT TEACHING FARM PRODI PETERNAKAN UMBY TERIMA KUNJUNGAN TK BUDI MULYA

Pada bulan Januari 2020 Prodi Peternakan UMBY Menerima kunjungan dari TK Budi Mulya Sedayu, acara kunjungan tersebut bertujuan untuk memperkenalkan dunia peternakan kepada siswa TK. Tidak hanya ternak saja yang dikenalkan pada siswa TK, teknologi pemanfaatan limbah serta berbagai jenis rumput pun diperkenalkan. Teknologi pengolahan limbah yang ada di UPT Teaching Farm adalah teknologi biogas dan pembuatan pupuk kompos. Acara kunjungan tersebut di ikuti sekitar 40 siswa TK dan 7 orang Guru.

Untuk atasi kekurangan pakan ternak di Gunung kidul prodi Peternakan UMBY berikan pelatihan technofeeding bagi peternak

Foto Pelatihan tekhnofeeding di Gunungkidul Daerah Istimewa Yogyakarta.


Gunung Kidul merupakan salah satu daerah penghasil ternak sapi potong di Daerah Istimewa Yogyakarta, akan tetapi peternakan rakyat tersebut tidak diimbangi dengan ketersediaan pakan yang cukup, akibatnya pakan hijauan yang tersedia di daerah tersebut tidak bisa mencukupi kebutuhan dan harus mendatangkan pakan hijauan dari luar daerah seperti Bantul bahkan Klaten. Melihat permasalahan tersebut Prodi Peternakan Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) bekerjasama dengan mahasiswa KKN Universitas Muhammadiyah Yogyakarta kelompok 054 yang berada di Desa Pilangrejo, Kec. Nglipar  Kab. Gunung Kidul untuk mengadakan pelatihan technofeeding (pembuatan silase dan hay berbahan rumput, jerami padi dan bahan lokal lainnya) dengan menghadirkan narasumber Ajat Sudrajat, S.Pt., M.Pt. dari Prodi Peternakan Fakultas Agroindustri Universitas Mercu Buana Yogyakarta.

Menurut Ajat Sudrajat, S.Pt., M.Pt. pakan merupakan hal yang paling penting dalam sebuah usaha peternakan. Salah satu faktor yang harus diperhatikan untuk meningkatkan produktifitas ternak adalah penyediaan pakan yang cukup sepanjang tahun baik cukup secara kuantitas (jumlah) maupun kualitasnya. Permasalahan umum yang sering terjadi di peternakan rakyat adalah surplus pakan hijauan ketika musim penghujan dan kekurangan pakan ketika musim kemarau, maka dari itu perlu adanya penggunaan teknologi pakan yang tepat supaya pakan bisa tersedia sepanjang tahun dan mempunyai kualitas nutrisi yang baik. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi kekukrangan pakan di musim kemarau adalah dengan cara pengawetan pakan. Pengawetan tersebut dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu pembuatan silase, amoniasi jerami dan hay (pengeringan). Teknologi pakan tersebut selain bisa mengawetkan dalam penyimpanan pakan, bisa juga meningkatkan kualitas nutrisi pakan.

  Silase dan amoniasi adalah pengawetan pakan dengan cara fermentasi yang dilakukan secara an aerob (tanpa udara) dengan ditambahkan bahan-bahan tambahan seperti bekatul atau dedak, EM4 (starter), molases (tetes tebu), urea (untuk amoniasi jerami) dan lain-lain. Prinsip dasar pembuatan silase adalah untuk mengawetkan dan mengurangi kehilangan kandungan zat nutrisi dalam pakan. Sedangkan hay merupakan hijauan pakan yang dikeringkan dan Prinsip pembuatan hayadalah menurunkan kadar air pakan menjadi 15-20% dalam waktu yang singkat, baik dengan panas cahaya matahari ataupun panas buatan.
Cara pembuatan silase cukup mudah yaitu menyiapkan alat dan bahan seperti bekatul, molasses atau tetes tebu, EM4 Peternakan, air, golok untuk mencacah rumput, ember untuk mencampur EM4, tetes tebu dan air, plastik untuk tempat penyimpanan silase, tali rafia untuk mengikat, sprayer kecil untuk menyemprotkan larutan EM4 dan tetes tebu yang dicampur dengan air serta terpal untuk tempat pencampuran bahan. Adapun perbandingan bahan-bahannya adalah untuk pembuatan silase rumput/jerami 100 kg cukup mencampurkan 5-10% bahan yang disebutkan tadi (bekaltul 5 kg, tetes tebu 500 ml, EM4 Peternakan 2 tutup botol dan air kurang lebih 5 liter).
Proses pembuatannya yaitu pertama rumput atau jerami di cacah sampai dengan ukuran 3-5 cm, kemudian dicampur dengan bekatul sampai merata, selanjutnya larutkan tetes tebu dan juga EM4 kedalam air kemudian semprotkan secara merata sambil di balik, namun perlu diperhatikan hasil pencampuran tidak boleh terlalu basah karena apabila terlalu basah akan menyebabkan pembusukan, jadi idealnya tidak terlalu basah dan tidak terlalu kering. Jika semua bahan sudah tercampur dengan baik selanjutnya dimasukan ke dalam kantong plastic atau tong sampai penuh sambil dipadatkan, setelah itu pastikan plastik atau tong tersebut sudah  padat dan tidak ada udara (an aerob) ditutup rapat atau di ikat menggunakan tali raffia dengan kuat supaya udara dari luar tidak masuk kedalam plastik, kemudian disimpan selama 10-14 hari, setelah itu pakan siap diberikan, akan tetapi sebelum diberikan kepada ternak pakan diangin-anginkan dulu untuk mengurangi bau amoniaknya minimal 30 menit, jika bau amoniak sudah hilang maka sudah bisa diberikan kepada ternak. Ciri-ciri pakan silase yang baik adalah berwarna kehijau-hijauan seperti warna rumput asalnya pada saat pembuatan silase, berbau harum seperti bau tape, pH berkisar 4-4,5 serta tidak berjamur dan tidak menggumpal.

Prodi Peternakan UMBY Selenggarakan Program Minat Profesi Untuk Meningkatkan Kompetensi Lulusan

Mahasiswa yang mengikuti program mata kuliah minat profesi Inseminator di KPBS Pangalengan Kab. Bandung Jawa Barat.

Program mata kuliah minat profesi di Prodi Peternakan UMBY menawarkan pilihan minat profesi bagi mahasiswa tingkat akhir untuk meningkatkan kompetensi. Program mata kuliah tersebut dilaksanakan 30% teori di kelas dan 70% praktek dilapangan (dikampus dan di perusahaan mitra serta instansi pemerintahan sesuai dengan minat profesi yang diambil) adapun mata kuliah yang ditawarkan adalah minat profesi Inseminator, Nutrisionis, Hatcheries, Butcheries dan Ahli penyamakan kulit. Mahasiswa yang sudah lulus mata kuliah minat profesi akan di ikutkan Uji Kompetensi di Badan Nasional Sertifilasi Pertanian (BNSP), dengan mendapatkan sertifikat kompetensi mahasiswa prodi Peternakan UMBY akan mempunyai bekal ilmu, pengalaman praktek dilapangan dan sertifikat kompetensi yang akan menjadi nilai tambah pada saat melamar pekerjaan ataupun berwirausaha.

Prodi Peternakan UMBY Mengadakan Kuliah UMUM dalam rangka Dies Natalis UMBY ke-33 Dengan Mendatangkan Dosen Tamu Dari Omdurman Islamic University Sudan Afrika

Dalam rangka Dies Natalis UMBY ke-33 Prodi Pternakan UMBY mengadakan kuliah umum dengan tema ” Strategi Pengembangan Industri Peternakan Di Era Millenial Dengan Memanfaatkan Kemajuan IPTEK”. Kuliah umum tersebut menghadirkan beberapa narasumber diantaranya Mr. Hassan Hareen, BA. M.Sc. ( Omdurman Islamic University Sudan, Afrika), Aziz Bakhtiar S.Pt. (Alumni Prodi Peternakan UMBY ) dan Hadi, S.Pt. ( Alumni Prodi Peternakan UMBY) serta dimoderatori oleh Ajat Sudrajat, S.Pt., M.Pt. Acara tersebut di ikuti oleh mahasiswa baru peternakan dan mahasiswa semester 3 dan 5.